
hello guys…kita lanjutkan interview kita bersama Lilian Darmono part II …. mungkin bagi yang belum baca part I bisa diliat di posting sebelumnya… di lanjutan interview kali ini kita akan tau bagaimana Lilian bisa menjadi salah satu author motionographer.com bisa dikatakan mewakili Indonesia dan memberi pandangan bagaimana berkarir di bidang design, satu kata dari Lilian “finding the JOY in your work” mungkin itu salah satu nasehat untuk sukses dibidang kita….;) untuk lebih jelasnya berikut lanjutan interview MBD bersama Lilian…
Semenjak di bidang motion graphic dan illustrasi, Apakah proyek favorit anda ? bisa ceritakan
mengapa menjadi project fav ?
Proyek favorit sejauh ini dalam adalah ‘Dusk’: http://www.liliandarmono.com/projects/dusk-a-matte-painting
Alasannya? Karena proyek itu menolong saya menghadapi bulan2 suram di London dikala krisis ekonomi. Tidak ada lowongan kerja freelance di mana pun, cuaca buruk, uang menipis, dan hati resah. Rencananya merantau cari duit dan pengalaman, eeh malah kebentur pengangguran besar2 an dan cuaca dingin nggak ketulungan! ‘Dusk’ membantu saya menyadari identitas saya yg sebenarnya sebagai seorang designer/artist, membuka mata saya terhadap nurani sendiri. Akhirnya saya menyadari apa yg benar2 saya cintai, apa yg benar2 saya ingin ungkapkan dalam berkarya.

Dusk
Role : Designer, Illustrator // Studio: SELF
A personal project. This will be the base of my next short animation piece.
Motion graphic designer indonesia biasanya langsung eksekusi di after effects terutama yang
bekerja di tv ketika mendapat project karena deadline yang mepet. Dan terkadang MBD mendapat
pertanyaan tentang work flow project yang benar. Bisa diceritakan sedikit ke kita flow yang benar
dari sebuah project motion graphic. Apakah setelah brief kita ke styleframe dulu lalu ke storyboard
baru eksekusi atau ada flow lainnya ?
Tentu saja workflow ‘yg benar’ itu bervariasi, tergantung proyeknya. Tapi memang ada satu workflow yg sudah terbukti berulang kali sangat manjur di dunia Motion Design dan animasi, yaitu:
1. Brief-
2. Riset & Berburu inspirasi
3. Design (ini bisa melibatkan Styleframe, Concept Art, Character Design, Storyboard, dst)
4. Bersamaan dgn Design biasanya ada tahap Pre-Visualisation atau Animatic–yaitu tahap dimana seluruh proyek itu (music video atau Iklan TV atau apa pun), dikerjakan dengan kasar, disertai musik (juga kasar), untuk memberi kita suatu gambaran kasar bagaimana ide2 kita menjelma menjadi suatu hasil/solusi yg konkrit.
5. Production dimulai
Dengan menerapkan workflow ini, ada satu keuntungan lagi: yaitu kita bisa mencegah klien untuk terus2 an berubah pikiran. Kalau stage Design dan Pre-Vis sudah selesai, seandainya klien ingin berubah pikiran, boleh2 aja, tapi bayar harus extra..! Jadi jelaskanlah pada klien bahwa tiap tahap hasilnya akan ditunjukkan kepada mereka, buat feedback dan approval, kalau sudah approved, gak boleh mundur lagi, Ini sangat penting, karena bagi kebanyakan klien, mereka nggak ngerti bahwa ‘small changes’ = big headache and major stress. Maklumlah, karena pengetahuan teknis mereka kan nggak mungkin selengkap kita?
Bagaimana anda akhirnya bisa menjadi author’s dan terlibat di motionographer.
com..?
Jawban pastinya hanya Justin Cone yg tahu (Sang Editor & Pencetus). Tapi kalau nggak salah, saya sering mengirim usul dan info tentang proyek2 yg menurut saya lumayan bagus untuk ditayangkan di Motionographer. Saya juga pernah mengungkapkan keinginan untuk menjadi salah satu kontributor, karena waktu itu, nggak ada kontributor cewe!!! Saya mengkritik halus bahwa hal ini harus diperbaiki..Masakan blog setenar itu writing staff nya cowo semua??? Terakhir sebelum saya dilantik menjadi salah satu kontributor, saya mengirimkan reportase/ulasan saya tentang Semi-Permanent Conference 2008 di Sydney, yg saya tulis di blog pribadi saya. Mungkin Justin merasa saya jurnalis amatir yg lumayan? Akhir kata saya bergabung sekitar pertengahan 2008.
menurut anda, Apa hal yang terpenting yang harus dimiliki oleh seorang motion
designer untuk bisa menjadi sukses dibidangnya ?
Sukses itu tergantung individu, ya. Apa yg dikejar? Harta? Nama? Ketenaran? Waktu saya masih muda, saya ingin tiga hal itu. Tapi sekarang, saya sadar..definisi sukses yg paling murni dan penting adalah: kebahagiaan dalam berkarya. Untuk bisa mendapatkan itu, seorang designer harus punya keberanian dan tekad kuat. Berani menuruti kata hati, bertekad kuat untuk nggak gampang tergiur Ketenaran atau Pamor, yg bisa menyesatkan. Contohnya—bertahun2 saya bekerja keras, trying to be good at things that I THINK people EXPECT me to be good at, bukannya trying to be good at things that I LOVE to be good at. Akhirnya setelah montang-manting ke sana kemari, saya kembali ke cinta pertama: menggambar. Illustrasi. Lagipula Motion Design itu luas sekali…tergantung juga bidang apa yg ingin dikejar? Animasi? Character Design? Film? Illustrator? Tapi kalau dipikir2, bidang apapun yang ingin dikejar, kuncinya sama—kejujuran terhadap diri sendiri, dan keberanian untuk menuruti naluri / instinct kita. Semakin jelas di benak kita apa yang bisa kita kerjakan supaya kita bisa berbahagia dalam berkarya (finding the JOY in your work), semakin gampang meraih sukses itu.

Trident Pitch
Role : Designer, Illustrator // Studio: Buck
Selain Motion graphic, apakah anda mempunyai passion di bidang lain ? kenapa?
Film, jurnalisme, pendidikan, dan community work untuk meningkatkan kesejahteraan sesama designer dalam komunitas profesi kita. Passion for film: karena bagi saya storytelling/ mendongeng itu penting, begitulah cara manusia mewariskan dan menyebarluaskan berbagai nilai dan ide2 yang membentuk identitas kita sebagai manusia. Jurnalisme dan pendidikan, karena saya gemar menulis, dan saya percaya bahwa salah satu cara paling efektif untuk memajukan masyarakat dan komunitas, adalah melalui pendidikan, penyebaran informasi, yang sangat tergantung pada jurnalisme yang baik.
Menurut Anda, Bagaimana perkembangan dunia motion graphic di Indonesia ?
Saya rasa di masa yg akan datang, akan berkembang pesat. Layaknya gelombang, dunia periklanan dan broadcast agak mulai menyurut di USA dan Inggris/Eropa (budget makin mengecil), tapi di Asia dan Indonesia, kita sedikit ketinggalan, jadi sekarang ini kita belum lagi mencapai puncaknya, sedangkan di dunia Barat sudah mulai menyusut. Memang taraf aesthetic proyek2 Motion Design di Asia/Indonesia belum setinggi di dunia Barat, karena selera klien dan konsumen belum tinggi. Budget dan deadline juga lebih mepet, seperti yg tadi anda sebutkan. Jadi sebagai desainer, nggak ada salahnya kita mencontoh standard yg lebih tinggi di USA/UK, dan berusaha mendidik klien dan konsumen kita di Indonesia untuk bercita rasa lebih tinggi. Bukan maksud saya kita menjiplak style dan kultur barat, tapi menerapkan hukum2 dasar design dengan baik dan ketat seperti halnya yg dilaksanakan di USA/UK, dengan menggunakan elemen2 dari budaya kita sendiri. Indonesia adalah negeri yg kaya inspirasi, mulai dengan Raden Saleh, sampai dengan kerajinan tradisional rakyat dari seluruh pelosok tanah air…Kalau kita teliti, designer2 sukses di Scandinavia (Swedia, Finlandia), banyak yg menggunakan motif2 kerajinan tradisional rakyat mereka, kenapa kita nggak mencoba hal yg sama dengan berbagai senirupa khas Indonesia?

RTE 2 Ident
Role : Co-Director, (with Mungo Horey) // Studio: SELF (Via Bermuda Shorts and RedBee Media)

Characters lineup
Terima kasih Lilian sekali lagi buat waktunya. Terakhir adakah pesan buat Inspiring motion designer
indonesia ?
Wah, banyak sekali pesan dan ‘nasihat’ yg bisa saya sampaikan… tapi yg paling penting saya rasa ini: adalah kekhasan mental orang Indonesia untuk menghormati orang2 yg lebih senior dari kita, dan kita selalu merasa bahwa kita harus banyak belajar dari orang2 yg lebih tinggi peringkatnya dari kita dalam karir. Di dunia Design, khususnya Motion, sikap ini kadang2 bisa malah menghambat kemajuan karir kita. Jika kita punya keyakinan bahwa kita berbakat, janganlah segan, ragu atau malu untuk mengekspresikan bakat itu, apapun hambatannya.
Contohnya dalam rapat berdiskusi ide, di awal proyek: jangan segan mengutarakan pendapat, dan jangan kecil hati atas kritikan designer lain yg lebih senior. Ini bukan berarti kita nggak mau belajar dari mereka, tapi kita harus selalu punya keyakinan sendiri. Jikea kita punya seorang designer yg kita jadikan ‘panutan’, boleh2 aja, tapi jangan merasa bahwa jejak karir kita sebaiknya harus mencontoh jejak karir sang panutan, karena dalam Motion Design, nasib orang berbeda2. Tidak ada satu jalan yang paling ‘benar’. Panduan nomor satu harus naluri dan instinct sendiri.
So long as you’re true to yourself, work hard, and unafraid to follow your creative instincts, you will have a happy, fulfilling career. And it’s true: do what you love, money will find it’s way to you, somehow.
Semoga sukses, pembaca MBD semuanya! (LIL,)
—
yeaah..jawaban yang sangat inspiratif buat kita … :D terima kasih banyak Lilian sudah bersedia kami interview dan berbagi pengalaman dan Ilmu bersama teman2 dan pembaca MBD semuanya…, semoga ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi buat kita semua….;D
keep workz and keep moving…\m/



heri
March 27, 2012
Tengkyu MBD ada banyak banget nasehat yg bisa di dapet nih..
sayang kok blm ada yg komen yah..
panji Krishna
April 3, 2012
keep visitz! :)